Daftar Blog Saya

Senin, 09 Agustus 2010

Pesan Seorang Guru Tuk Muridnya

Anak-anakku!!!
jadilah apapun yang kalian mau
sebab itu hidupmu.
katakan apa yang ingin diucapkan
muntahkan semua serapah
bila itu buat kalian bahagia
sebab mengatakan bukan kesalahan
meski itu serapah paling kasar
asal jangan kau tujukan pada siapapun
cukup kau katakan.
jangan pernah takut tuk bicara
sebab bicara adalah hak kita
selama itu kejujuran dan bukan fitnah

Buram (catatan 2001)

ia pacu sepeda motornya, tak terlintas maut atau apapun, sebab jiwanya hanya kegalauan. sampailah ia dengan selamat di sebuah warung yang menjual topi miring. ia membeli 3 tm dan 3 coffe cream. bergegas ia dengan senyum yang tak bermakna. tibalah ia di tempat yang ditentukan bersama 2 orang kawan lelakinya......... tak lama berselang, pulanglah ia setelah habiskan semua minuman yang ia beli bersama kawannya, kembali dengan sepeda motor yang kali ini tak terasa apapun, bahkan saat jalan kampung yang sangat rusak pun tak terasa, sampai sang teman berkata "ko jalannya enak amat yah rata, seperti di jalan aspal",,,,,, kegilaan mulai tampak,,, ia tersenyum kecut mendengarnya. tak lama sampailah ia dirumah,,,,, ia pulang tanpa membawa rasa apapun,,, kegelapan begitu dekat,,,, putaran bumi terasa berat,,,, bergegas ia pulang agar tak ada yang melihatnya waktu terkapar,,,,, segera saja terjerembab dalam kamarnya,,,, sang ibu (nenek) dan mamahnya tersentak melihat anaknya begitu lusuh dan karam berlari menuju kamar,,,,,, tak lama segera keluar suar tak karuan dari mulutnya ,,,,, owek,,,, owek ,,,, hitam bercampur putih dan sgala warna keluar dari mulutnya... ia lihat ibu mamahnya masuk dalam kamarnya yang gelap,,,,, begitu terperangah kedua orang tua itu,,, begitu kesedihan tergurat pada wajah orang-orang mulia itu,,,, tak karuan rasanya saat itu,,, ada ketakutan akan marah ibu dan mamahnya,,, ada malu pada diri dan tingkahnya,,,,,, ia terkapar dan muntahan makanan dan cairan keluar kasar dari mulutnya ,,,,

akhhh betapa hancur dan luluh sang lelaki, betapa hilang, tenggelam ia dalam rasa entah yang seperti apa,,,, tidak,, tidak ada kemarahan di wajah ibu dan mamahnya, tidak ada serapah keluar seperti layaknya ibu2 lain yang kutau saat anaknya mabuk,,,, bukan ,,,, bukan,,,, bukan serapah yang keluar dari mulut mereka,,,,,, yaah,,, betapa aku terluka,,, air mata itu, air mata mereka,,,, mereka berdua bercucuran air mata, menangislah mereka memburuku ,,,, kesedihan jelas tergambar di raut tua wajah mereka ,,, dalam alam entah apa namanya,,,, aku terkubur,,,, tercabik ketakberdayaan,,,, betapa kasih sayang begitu meruah..... betapa ketulusan sebuah cinta,,,, betapa dan betapa semua rasa yang ada di dunia.
"knapa kau De???" sang mamah menyapa,, "apa yang membuatmu sedih De" sang ibu bergegas mengusap kepalanya yang tlah kotor,,,,, disekalah seluruh hitam dan muntahan di wajahnya oleh sang ibu,,,, sang mamah bergegas mengambil kain yang lain dan segera berjongkok untuk membersihkan bekas muntahan yang tercecer di lantai kamar,,,,, hilang semua rasaku saat itu,,,, entah berada di mana dia saat kedua wanita mulia itu menangis menatap wajahnya, "kesedihan apa yang membuatmu sampai begini" ucap sang ibu, "knapa sampai begini, knapa gak ngomong dengan ma2h de??" akhhh betapa air mata mereka luluhkan semua rasa, aku benar2 tak bermakna, air mata mereka telah membukakan mata ,,,,, ia pun menangis tanpa ada sepatah kata pun keluar,,,, hanya sbuah niat yang ia genggam ,,,, takkan kuulangi lagi yang seperti ini!!!!

Ngeri ,,,,

setelah hujan reda, sesaat sebelum melewati sebuah pasar, motornya ia belokkan ke jalan alternatif agar terhindar dari macet, melewati bangunan pabrik yang berjejer,,,,, uuh jalan hancur berlubang, becek, genangan air di mana-mana. lubang jalan menganga, seperti kolam renang, seperti kubangan kerbau dulu yang kutau, penuh berisi air yang berwarna kuning kotor karena bercampur lumpur, setelah air hujan di aduk oleh besarnya ban mobil tronton dan trailer yang mengangkut barang hasil industri.
Aneh,, sangat aneh,,, di jalan menuju daerah industri, perusahaan berjejer rapat,,, sementara jalan di depannya berlubang besar dan banjir air lumpur,, bukankah ini negeri makmur seperti cerita nenekku.
tak lama memasuki jalan laternatif itu, pada sebuah kubangan yang cukup besar,,, lima orang anak kecil dengan riang mandi di kubangan jalan yang sangat kotor,,,, sangat, sangat kotor,,, tak layak untuk berenang ikan sekalipun,,, tapi mereka, anak-anak bangsa ini,,, menganggap itu kolam renang,, akkhh negeri apakah ini,, saat sebuah trailer melintas,,, mereka berlari menepi ke pinggir jalan,, bersorak telanjang dada,,, dan setelah trailer melintas air kubangan menjadi semakin kotor dan kecoklatan,,, dan lima anak kecil itu terjun ke air itu,,, masya allah,,, beginikah warna sebagian negeri ini,, itu bukan kolam renang,, bukan sungai sekalipun..

Maafkan Bunda, Bukannya Kutakmau Kuliah S2

Jangan, jangan lagi,
jangan lagi kau paksa aku kuliah es dua
sebab semua tak lagi bermakna
cuma menghamburkan biaya
aku tak mau menipu dan bodohi diri lagi.
bagaimana mungkin kuliah seminggu dua hari saja
belajar apa di sana????
apa hanya tuk selembar ijazah???
tidak, bagiku tidak seperti itu
belajar tiap hari pun nilaiku dulu masih ce dan de
apalagi hanya dua hari.
tidak bunda,
kumasih punya nurani
menjaga harga diri hati
juga kemurnian akan arti sekolah
atau kuliah bunda kata.
di manapun sekolahnya
negeri atau swasta
seminggu dua hari tak masuk logika
untuk yang namanya sekolah atau kuliah
kecuali tuk membeli selembar ijazah.
bukan kutak berbakti pada bunda
bila kutolak saat diminta jadi dosen
yang kuliahnya sabtu minggu
dan tak membaggakan seperti inginmu
tapi aku masih puya kalbu
cukuplah jadi guru
yang belajar enam hari dalam seminggu
dengan itulah kebanggaanku
tuk bayar kelu semua tingkah lalu
sebab belajar formal seharusnya seperti itu.
maafkan bunda bila kutak mau
lanjutkan kuliah es dua
sebab bila seperti itu
lebih baik ikut paket saja
atau cukup membayar tuk dapat ijazah
jelas tak bodohi siapapun tuk sebuah gelar
dan tak buang biaya serta tenaga

Kurindu Ruh Mu Ya Ramdhan

kurindu
ruh mu Ya Ramadhan
di saat umat begitu bersuka
menyabut hadirmu
bukan sekadar rutinitas
bukan sekadat kewajiban umat
tapi melebihi sebuah ritual sakral
melebihi kesucian waktu yang kita temui
saat orang berduyun-duyun
saling menghargai
terhadap manusia, alam, kehidupan dan kematian
begitu toleran
kurindu
ruh mu Ya Ramadhan
saat semua bersuka cita
menjaga hati saling menghargai
kini tak lagi kutemui

Agustusan???

ketika kutanya pada anak2ku, apa yang kau dapat setelah ikut lomba menari, senam dsb. mereka bilang seneng aja pak!!! ketika kutanya pada anak2ku dan teman2ku, apa yang kau dapat setelah ikut gerak jalan menyambut agustusan!!!! smua diam, bahkan setelah itu mengeluh capek. lalu apa makna memperingati hari kemerdekaan ini bila tak ada bukti nyata tuk bangsa. jujurlah pada diri, masih bermanfaatkan semua itu tuk pembangunan bangsa??? berapa biaya yang dikleuarkan tuk smua itu??? bukankah lebih baik, tahun ini tidak ada acara apapun selain upacara dalam memperingati 17 agustus, semua biaya yang sebelumnya untuk peringatan tersebut seperti persiapan lomba2, gerak jalan, panggung hiburan, dikumpulkan seluruh biayanya di masing2 kecamatan, pasti akan terkumpul puluhan atau bahkan ratusan juta. bukankah lebih bermanfaat dan bermakna bila uang tersebut digunakan untuk membangun jalan atau membangun rumah2 masyarakat yang fafa, bila dalam waktu 5 tahun bukankah akan berkurang penduduk yang rumahnya akan roboh, atau berapa kilo jalan yang akan menjadi baik. atau dibuat untuk membangun fasilitas sekolah yang masih banyak belum memiliki fasilitas yang memadai. bagaimana generasi kita mau maju bila contoh yang mereka dapat seperti itu, lihat saja gerak jalan yang dilaksanakan, serapih apa mereka laksanakan???? lalu setelah itu manfaat apa yang mereka dapatkan??? atau lomba menari dan sebagainya??? apa manfaat nyata yang bisa kita ambil??? atau yang lebih parah lagi buat panggung hiburan, apakah hanya tuk senang2??? aahhh mengapa kita belum belajar juga, mengapa tak juga kita buat yang lebih nyata dan lebih bermakna, bukankah sudah lebih dari 65 tahun??? mengapa tidak tiap sekolah, tiap desa, di instruksikan bahwa dalam memperingati agustusan tidak boleh ada lomba2 apapun selain upacara, semua harus dikumpulkan pada tanggal tertentu, semua ke jalan membersihkan sampah yang ada di jalan dan lingkungan masing2,,, bukankah itu lebih baik???? yah bila semua diinstruksikan pada tanggal tersebut turun ke jalan tuk membersihkan lingkungan, sedangkan biaya yang tadinya diperuntukkan tuk lomba2 dan panggung hiburan dibuat tuk penghijauan. bukan bila seperti itu jauh lebih berharga???? ini hanya sekedar celoteh saja, catatan tentang isi hati ...

Senin, 02 Agustus 2010

Definis Sastra

Sastra (Sansekerta शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata "sastra" bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.

Jadi, yang termasuk kedalam kategori Sastra adalah :

Novel
Cerita / Cerpen (tertulis / lisan)
Syair
Pantun
Sandiwara / Drama
Lukisan / Kaligrafi


SASTRA NUSANTARA

Sastra Bali
Sastra Batak
Sastra Bugis
Sastra Indonesia (Modern)
Sastra Jawa
Sastra Madura
Sastra Makassar
Sastra Melayu
Sastra Minangkabau
Sastra Sasak
Sastra Sunda
Sastra Lampung


SASTRA BARAT

Sastra Belanda
Sastra Inggris
Sastra Italia
Sastra Jerman
Sastra Latin
Sastra Perancis
Sastra Rusia
Sastra Spanyol
Sastra Yunani


SASTRA ASIA

Sastra Arab
Sastra Tiongkok
Sastra Ibrani
Sastra India Modern
Sastra Jepang
Sastra Parsi
Sastra Sansekerta


Source : Wikipedia

Sastra Indonesia

Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:

Pujangga Lama

Sastra "Melayu Lama"

Angkatan Balai Pustaka

Pujangga Baru

Angkatan '45

Angkatan 50-an

Angkatan 66-70-an

Dasawarsa 80-an

Angkatan Reformasi

Secara metode penyampaian sastra Indonesia terbagi atas 2 bagian besar, yaitu:

lisan

tulisan

PUJANGGA LAMA
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di Indonesia di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat.


Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah Melayu

Hikayat Abdullah - Hikayat Andaken Penurat - Hikayat Bayan Budiman - Hikayat Djahidin - Hikayat Hang Tuah - Hikayat Kadirun - Hikayat Kalila dan Damina - Hikayat Masydulhak - Hikayat Pandja Tanderan - Hikayat Putri Djohar Manikam - Hikayat Tjendera Hasan - - Tsahibul Hikayat

Syair Bidasari - Syair Ken Tambuhan - Syair Raja Mambang Jauhari - Syair Raja Siak

dan berbagai Sejarah, Hikayat, dan Syair lainnya


SASTRA "MELAYU LAMA"
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah sumatera lainnya", Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.


Karya Sastra "Melayu Lama"
Robinson Crusoe (terjemahan)

Lawan-lawan Merah

Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)

Graaf de Monte Cristo (terjemahan)

Kapten Flamberger (terjemahan)

Rocambole (terjemahan)

Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)

Bunga Rampai oleh A.F van Dewall

Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe

Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan

Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya

Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)

Cerita Nyi Paina

Cerita Nyai Sarikem

Cerita Nyonya Kong Hong Nio

Nona Leonie

Warna Sari Melayu oleh Kat S.J

Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan

Cerita Rossina

Nyai Isah oleh F. Wiggers

Drama Raden Bei Surioretno

Syair Java Bank Dirampok

Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang

Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen

Tambahsia

Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo

Nyai Permana

Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)

dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya


ANGKATAN BALAI PUSTAKA
Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 - 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.


Pengarang dan karya sastra Angkatan Balai Pustaka
Merari Siregar

Azab dan Sengsara: kissah kehidoepan seorang gadis (1921)

Binasa kerna gadis Priangan! (1931)

Tjinta dan Hawa Nafsu

Marah Roesli

Siti Nurbaya

La Hami

Anak dan Kemenakan

Nur Sutan Iskandar

Apa Dayaku Karena Aku Seorang Perempuan

Hulubalang Raja (1961)

Karena Mentua (1978)

Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

Abdul Muis

Pertemuan Djodoh (1964)

Salah Asuhan

Surapati (1950)

Tulis Sutan Sati

Sengsara Membawa Nikmat (1928)

Tak Disangka

Tak Membalas Guna

Memutuskan Pertalian (1978)

Aman Datuk Madjoindo

Menebus Dosa (1964)

Si Tjebol Rindoekan Boelan (1934)

Sampaikan Salamku Kepadanya

Suman Hs.

Kasih Ta' Terlarai (1961)

Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)

Pertjobaan Setia (1940)

Adinegoro

Darah Muda

Asmara Jaya

Sutan Takdir Alisjahbana

Tak Putus Dirundung Malang

Dian jang Tak Kundjung Padam (1948)

Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1963)

Hamka

Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)

Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1957)

Tuan Direktur (1950)

Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

Anak Agung Pandji Tisna

Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1975)

Sukreni Gadis Bali (1965)

I Swasta Setahun di Bedahulu (1966)

Said Daeng Muntu

Pembalasan

Karena Kerendahan Boedi (1941)

Marius Ramis Dayoh

Pahlawan Minahasa (1957)

Putra Budiman: Tjeritera Minahasa (1951)

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai Raja Pengarang Balai Pustaka oleh sebab banyaknya karya tulisnya pada masa tersebut.


PUJANGGA BARU
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi "bapak" sastra modern Indonesia.

Pada masa itu, terbit pula majalah "Poedjangga Baroe" yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu 1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan; 2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.


Penulis dan karya sastra Pujangga Baru
Sutan Takdir Alisjahbana

Layar Terkembang (1948)

Tebaran Mega (1963)

Armijn Pane

Belenggu (1954)

Jiwa Berjiwa

Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)

Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)

Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)

Tengku Amir Hamzah

Nyanyi Sunyi (1954)

Buah Rindu (1950)

Setanggi Timur (1939)

Sanusi Pane

Pancaran Cinta (1926)

Puspa Mega (1971)

Madah Kelana (1931/1978)

Sandhyakala ning Majapahit (1971)

Kertadjaja (1971)

Muhammad Yamin

Indonesia, Toempah Darahkoe! (1928)

Kalau Dewi Tara Sudah Berkata

Ken Arok dan Ken Dedes (1951)

Tanah Air

Roestam Effendi

Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan (1953)

Pertjikan Permenungan (1953)

Selasih

Kalau Ta' Oentoeng (1933)

Pengaruh Keadaan (1957)

J.E.Tatengkeng

Rindoe Dendam (1934)


ANGKATAN '45
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik - idealistik.


Penulis dan karya sastra Angkatan '45
Chairil Anwar

Kerikil Tadjam (1949)

Deru Tjampur Debu (1949)

Asrul Sani, Rivai Apin Chairil Anwar

Tiga Menguak Takdir (1950)

Idrus

Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)

Aki (1949)

Perempuan dan Kebangsaan

Pramoedya Ananta Toer

Bukan Pasar Malam (1951)

Ditepi Kali Bekasi (1951)

Gadis Pantai

Keluarga Gerilja (1951)

Mereka jang Dilumpuhkan (1951)

Perburuan (1950)

Tjerita dari Blora (1963)

Mochtar Lubis

Tidak Ada Esok (1982)

Djalan Tak Ada Udjung (1958)

Si Djamal (1964)

Achdiat K. Mihardja

Atheis - 1958

Trisno Sumardjo

Katahati dan Perbuatan (1952)

Terjemahan karya W. Shakespeare: Hamlet, Impian di tengah Musim, Macbeth, Raja Lear, Romeo dan Julia, Saudagar Venezia, dll.

M.Balfas

Lingkaran-lingkaran Retak, kumpulan cerpen (1978)

Utuy Tatang Sontani

Suling (1948)

Tambera (1952)

Awal dan Mira - drama satu babak (1962)


ANGKATAN 50-AN
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.

Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.


Penulis dan karya sastra Angkatan 50-60-an
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada akhir dekade 80-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

Ajip Rosidi

Cari Muatan

Ditengah Keluarga (1956)

Pertemuan Kembali (1960

Sebuah Rumah Buat Hari Tua

Tahun-tahun Kematian (1955)

Ali Akbar Navis

Bianglala: kumpulan tjerita pendek (1963)

Hudjan Panas (1963)

Robohnja Surau Kami: 8 tjerita pendek pilihan (1950)

Bokor Hutasuhut

Datang Malam (1963)

Enday Rasidin

Surat Cinta

Nh. Dini

Dua Dunia (1950)

Hati jang Damai (1960)

Nugroho Notosusanto

Hujan Kepagian (1958)

Rasa Sajangé (1961)

Tiga Kota (1959)

Ramadhan K.H

Api dan Si Rangka

Priangan si Djelita (1956)

Sitor Situmorang

Dalam Sadjak (1950)

Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)

Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)

Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)

Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)

Subagio Sastrowardojo

Simphoni (1957)

Titis Basino

Pelabuhan Hati (1978)

Dia, Hotel, Surat Keputusan (cerpen) (1963)

Lesbian (1976)

Bukan Rumahku (1976)

Pelabuhan Hati (1978)

Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983)

Trilogi: Dari Lembah Ke Coolibah (1997); Welas Asih Merengkuh Tajali (1997); Menyucikan Perselingkuhan (1998)

Aku Supiah Istri Wardian (1998)

Tersenyumpun Tidak Untukku Lagi (1998)

Terjalnya Gunung Batu (1998)

Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998)

Rumah Kaki Seribu (1998)

Tangan-Tangan Kehidupan (1999)

Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999)

Mawar Hitam Milik Laras (1999)

Toto Sudarto Bachtiar

Suara : kumpulan sadjak 1950-1955 (1962)

Etsa, sadjak-sadjak (1958)

Trisnojuwono

Angin Laut (1958)

Dimedan Perang (1962)

Laki-laki dan Mesiu (1951)

W.S. Rendra

Balada Orang² Tertjinta (1957)

Empat Kumpulan Sajak (1961)

Ia Sudah Bertualang dan tjerita-tjerita pendek lainnja (1963)

dan banyak lagi karya sastra lainnya


ANGKATAN 66-70-AN
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dll pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Seorang sastrawan pada angkatan 50-60-an yang mendapat tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian bahkan sering menimbulkan kesalah-pahaman; ia lahir mendahului jamannya.

Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya.


Karya Sastra Angkatan '66
Sutardji Calzoum Bachri

O

Amuk

Kapak

Abdul Hadi WM

Laut Belum Pasang – (kumpulan puisi)

Meditasi – (kumpulan puisi)

Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur – (kumpulan puisi)

Tergantung Pada Angin – (kumpulan puisi)

Anak Laut Anak Angin – (kumpulan puisi)

Sapardi Djoko Damono

Dukamu Abadi – (kumpulan puisi)

Mata Pisau dan Akuarium – (kumpulan puisi)

Perahu Kertas – (kumpulan puisi)

Sihir Hujan – (kumpulan puisi)

Hujan Bulan Juni – (kumpulan puisi)

Arloji – (kumpulan puisi)

Ayat-ayat Api – (kumpulan puisi)

Goenawan Mohamad

Interlude

Parikesit

Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang – (kumpulan esai)

Asmaradana

Misalkan Kita di Sarajevo

Umar Kayam

Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Sri Sumarah dan Bawuk – (kumpulan cerita pendek)

Lebaran di Karet, di Karet - (kumpulan cerita pendek)

Pada Suatu Saat di Bandar Sangging -

Kelir Tanpa Batas

Para Priyayi

Jalan Menikung

Danarto

Godlob

Adam Makrifat

Berhala

Putu Wijaya

Telegram

Stasiun

Pabrik

Gres – Putu Wijaya

Bom

Aduh – (drama)

Edan – (drama)

Dag Dig Dug – (drama)

Iwan Simatupang

Ziarah

Kering

Merahnya Merah

Koong

RT Nol / RW Nol – (drama)

Tegak Lurus Dengan Langit

Arifin C. Noer

Tengul – (drama)

Sumur Tanpa Dasar – (drama)

Kapai Kapai – (drama)

Djamil Suherman

Sarip Tambak-Oso

Umi Kulsum – (kumpulan cerita pendek)

Perjalanan ke Akhirat

Sakerah

dan masih banyak lagi yang lainnya.


DASAWARSA 80-AN
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Majalah Horison tidak ada lagi, karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.

Beberapa sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Kurniawan Junaidi.


Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80-an
Antara lain adalah:

Badai Pasti Berlalu - Cintaku di Kampus Biru - Sajak Sikat Gigi - Arjuna Mencari Cinta - Manusia Kamar - Karmila

Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad 19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 80-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.

Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman dengan Serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih "berat".

Budaya barat dan konflik-konfliknya sebagai tema utama cerita terus mempengaruhi sastra Indonesia sampai tahun 2000.


SASTRAWAN ANGKATAN REFORMASI
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang Sastrawan Angkatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.


Sastrawan Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki 'juru bicara', Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan 2000. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami, dan Dorothea Rosa Herliany.

Abidah el Khalieqy

Afrizal Malna

Ahmad Nurullah

Ahmad Syubanuddin Alwy

Ahmadun Yosi Herfanda adalah salah seorang penyair yang dimasukkan oleh Korrie Layun Rampan ke dalam Angkatan 2000, tapi ia sebenarnya telah banyak menulis sajak sejak awal 1980-an.

Ayu Utami dengan karyanya Saman, sebuah fragmen dari cerita Laila Tak Mampir di New York. Karya ini menandai awal bangkitnya kembali sastra Indonesia setelah hampir 20 tahun. Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka, bahkan vulgar, itulah yang membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang yang lain. Novel lain yang ditulisnya adalah Larung, lanjutan dari cerita Saman.

Dorothea Rosa Herliany

Seno Gumira Ajidarma


CYBERSASTRA
Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (internet)baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit maupun situs pribadi. Ada beberapa situs Sastra Indonesia di dunia maya


Source : Wikipedia

Pujangga Lama

Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di Indonesia di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat.


Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah Melayu

Hikayat Abdullah - Hikayat Andaken Penurat - Hikayat Bayan Budiman - Hikayat Djahidin - Hikayat Hang Tuah - Hikayat Kadirun - Hikayat Kalila dan Damina - Hikayat Masydulhak - Hikayat Pandja Tanderan - Hikayat Putri Djohar Manikam - Hikayat Tjendera Hasan - - Tsahibul Hikayat

Syair Bidasari - Syair Ken Tambuhan - Syair Raja Mambang Jauhari - Syair Raja Siak

dan berbagai Sejarah, Hikayat, dan Syair lainnya

Angkatan Balai Pustaka

Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 - 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.


Pengarang dan karya sastra Angkatan Balai Pustaka
Merari Siregar

Azab dan Sengsara: kissah kehidoepan seorang gadis (1921)

Binasa kerna gadis Priangan! (1931)

Tjinta dan Hawa Nafsu

Marah Roesli

Siti Nurbaya

La Hami

Anak dan Kemenakan

Nur Sutan Iskandar

Apa Dayaku Karena Aku Seorang Perempuan

Hulubalang Raja (1961)

Karena Mentua (1978)

Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

Abdul Muis

Pertemuan Djodoh (1964)

Salah Asuhan

Surapati (1950)

Tulis Sutan Sati

Sengsara Membawa Nikmat (1928)

Tak Disangka

Tak Membalas Guna

Memutuskan Pertalian (1978)

Aman Datuk Madjoindo

Menebus Dosa (1964)

Si Tjebol Rindoekan Boelan (1934)

Sampaikan Salamku Kepadanya

Suman Hs.

Kasih Ta' Terlarai (1961)

Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)

Pertjobaan Setia (1940)

Adinegoro

Darah Muda

Asmara Jaya

Sutan Takdir Alisjahbana

Tak Putus Dirundung Malang

Dian jang Tak Kundjung Padam (1948)

Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1963)

Hamka

Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)

Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1957)

Tuan Direktur (1950)

Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

Anak Agung Pandji Tisna

Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1975)

Sukreni Gadis Bali (1965)

I Swasta Setahun di Bedahulu (1966)

Said Daeng Muntu

Pembalasan

Karena Kerendahan Boedi (1941)

Marius Ramis Dayoh

Pahlawan Minahasa (1957)

Putra Budiman: Tjeritera Minahasa (1951)

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai Raja Pengarang Balai Pustaka oleh sebab banyaknya karya tulisnya pada masa tersebut.

Pujangga Baru

Pada mulanya, Pujangga baru adalah nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di Indonesia.

Adapun pengasuhnya antara lain Sultan Takdir Alisjahbana, Armein Pane , Amir Hamzah dan Sanusi Pane. Jadi Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran. Namun demikian, orang-orang atau para pengarang yang hasil karyanya pernah dimuat dalam majalah itu, dinilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah kedepan.

Barangkali, hanya untuk memudahkan ingatan adanya angkatan baru itulah maka dipakai istilah Angkatan Pujangga Baru, yang tak lain adalah orang-orang yang tulisan-tulisannya pernah dimuat didalam majalah tersebut. Adapun majalah itu, diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Suatu badan yang memang mempunyai perhatian terhadap masalah-masalah kesenian. Tetapi seperti telah disinggung diatas, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh pemerintah Jepang dengan alasan karena kebarat-baratan.

Namun setelah Indonesia merdeka, majalah ini diterbitkan lagi (hidup 1948 s/d 1953), dengan pemimpin Redaksi Sutan Takdir Alisjahbana dan beberapa tokohtokoh angkatan 45 seperti Asrul Sani, Rivai Apin dan S. Rukiah.

Mengingat masa hidup Pujangga Baru ( I ) itu antara tahun 1933 sampai dengan zaman Jepang , maka diperkirakan para penyumbang karangan itu paling tidak kelahiran tahun 1915-an dan sebelumnya. Dengan demikian, boleh dikatan generasi Pujangga Baru adalah generasi lama. Sedangkan angkatan 45 yang kemudian menyusulnya, merupakan angkatan bar yang jauh lebih bebas dalam mengekspresikan gagasan-gagasan dan kata hatinya.

source : Jajak MD- Para Pujangga Indonesia.

Pujangga 45

Rosihan Anwar dalam sebuah tulisannya dimajalah Siasat tanggal 9 Januari 1949, memberikan nama angkatan 45 bagi pengarang-pngarang yang muncul pada tahun 1940-an. Yakni sekitar penjajahan Jepang, zaman Proklamasi dan berikutnya.

Diantara mereka yang lazim digolongkan sebagai pelopornya adalah Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, Idrus, Pramudya, Usmar Ismail dsb. Nmaun sesungguhnya, tidak hanya itu saja saja alasan untuk memasukkan mereka kedalam angkatan yang lebih baru dari Pujanga Baru. Jelasnya, terlihat sekali pada karya-karya Chairil dimana ia telah membebaskan diri dari kaidah-kaidah tradisional kita dalam bersajak.

Lebih dari itu, "jiwa" yang terkandung dalam sajak-sajaknya terasa adanya semacam pemberontakan. Kendatipun demikian tak lepas dari pilihan kata-kata yang jitu, yang mengena, sehingga terasa sekali daya tusuknya.

Dibidang Prosa, Idrus dianggap sebagai pendobraknya dan sebagai pelanjut dari Pujangga Baru, bersama kawan-kawannya ia berkumpul dalam Angkatan 45.Landasan yang digunakan adalah humanisme universal yang dirumuskan HB Jassin dalam Suat kepercayaan Gelanggang. Jadi angkatan 45 merupakan gerakan pembaharuan dalam bidang sastra Indonesia, dengan meninggalkan cara-cara lama dan menggantikannya dengan yang lebih bebas, lebih lugas tanpa meninggalkan nilai-nilai sastra yang telah menjadi kaidah dalam penciptaan sastra.

Source Jajak MD - Para Pujangga Indonesia

Pujangga 66

Tentang Angkatan 66 ada empat orang penulis yang mengutarakannya. Mereka itu HB Jassin dalam angkatan 66 Prosa dan Puisi (1968) , Satyagraha Hoerip artikelnya dalam horison yang berjudul Angkatan 66 dalam Kesusasteraan Kita (1966) , Artikel Aoh K Hadimadja berjudul Daerah dan Angkatan 66 majalah Horizon-1967, Artikel Racmat djoko Pradopo Penggolongan Angkatan dan angkatan 66 dalam Sastra-Horison Juni 1967

Mereka memang saling berbeda pendapat atau persepsi namun tak begitu prinsipil karena sesungguhnya tidak ada pihak yang dirugikan. Bagi mereka, para pengarang itu, masuk golongan apapun tak jadi soal.

Akan tetapi menurut HB Jassin, "Angkata 66 Bangkitya Satu Generasi" (Horison, Agustus 1966) adalah suatu angkatan. Adapun yang termasuk dalam angkatan 66 ini menurutnya adalah mereka-mereka yang takkala proklamasi kemerdekaan (1945) kira-kira berumur enam tahun dan baru masuk SD/SR. Jadi tahu 1966 baru sekitar 20-an tahu. Mereka itu telah giat menulis dalam majalah-majalah sastra dan kebudayaan sekitar tahun 1955-an seperti Kisah, Siasat , Mimbar Indonesia , Budaya, Crita, Sastra, Konfrontasi, Basis, Prosa dan sebagainya.

Untuk angkatan 66 seperti yang digolongkan oleh HB Jassin itu, yang lain sekitar zaman pendudukan Jepang, menurut Satyagraha Hoerip lebih tepat kalau dimasukkan kedalam angkatan Manifes ( Horison Desember 1966 ). Tentu saja bukannya tanpa alasan. Sebab memang merekalah yang sebagian besar tergabung atau justru terang-terangan mendukung adanya Manifes Kebudayaan di tahun 1964 yang kemudian dilarang oleh Presiden Soekarno tahun berikutnya.

Dengan demikian bisa dicatat nama-namanya , antara lain : Ajip Rosidi, Rendra, Taufiq Ismail, Hartojo Andangjaya, Mansur Samin, Goenawan Muhammad, Djamil Suhirman , Bur Rasuanto, Bokor Hutasuhut, Bastari Asnin dll. Jadi yang temasuk angkatan 66 ini bukannya yang baru menulis sejak adanya perlawanan ditahun 1966. Tetapi, justru yang telah sejak beberapa tahun sebelumnya dengan satu kesadaran.

Ajip Rosidi didalam kertas kerjanya di Simposium Sastra Pekan Kesenian Mahasiswa Kedua Jakata tahun 1960, malahan sudah menggunakan istilah Angkatan Terbaru. Menurutnya, mereka muncul pada saat dunia sastra kita digamangi oleh kemuraman karena adanya krisis, kelesuan dan impase (kebuntuan). Mereka merupakan hasil pengajaran yang tumbuh dalam pengaruh kesusasteraan Indonesia. Mereka telah memberikan nilai baru terhadap ilham dan tempat berpijak serta berakar secara kultural.

Untuk lebih jelasnya, lihat buku Ajip Rosidi Kapan Kesusasteraan Indonesia Lahir (1968), juga simak tulisan HB Jassin Angkatan 66, Bangkitnya satu generasi, dalam bukunya Angkatan 66 Prosa dan Puisi terbitan tahun 1968.

Source Jajak MD - Para Pujangga Indonesia

Bahasa Indonesia

ahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia yang sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, ia hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dll. Untuk sebagian besar lainnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama. Bahasa Indonesia ialah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia.

Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang dinamakan 'Bahasa Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia". atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia".

Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap "lahir" atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.

Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai penghantar pendidikan di perguruan-perguruan di Indonesia.


SEJARAH
Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern, paling tidak dalam bentuk informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.

Bentuk yang lebih resmi, disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar.

Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan budaya Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan Bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah telanjur diambil oleh banyak pedagang yang melewati Indonesia.[rujukan?]


Melayu Kuna
Penyebutan pertama istilah "Bahasa Melayu" sudah dilakukan pada masa sekitar 683-686 M, yaitu angka tahun yang tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuna dari Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa atas perintah raja Kerajaan Sriwijaya, kerajaan maritim yang berjaya pada abad ke-7 dan ke-8. Wangsa Syailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuna di Jawa Tengah. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.

Berbagai batu bertulis (prasasti) yang ditemukan itu seperti:

Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, tahun 683
Prasasti Talang Tuo di Palembang, tahun 684
Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat, tahun 686
Prasasti Karang Brahi antara Jambi dan Sungai Musi, tahun 688
Yang kesemuanya bertuliskan Pra-Nagari dan bahasanya bahasa Melayu Kuno memeberi petunjuk bahwa bahasa Melayu dalam bentuk bahasa Melayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya.

Prasasti-prasasti lain yang bertulis dalam bahasa Melayu kuno juga terdapat di

Jawa Tengah, Prasasti Gandasuli, tahun 832
Bogor, Prasasti Bogor, tahun 942
Kedua-dua prasasti di pulau Jawa itu memperkuat pula dugaan bahwa bahasa Melayu Kuno pada ketika itu bukan saja dipakai di pulau Sumatra, melainkan juga ia dipakai di pulau Jawa.

Berikut ini kutipan sebagian bunyi batu bertulis Kedukan Bukit. Swastie syrie syaka warsaatieta 605 ekadasyii syuklapaksa wulan waisyaakha dapunta hyang naayik di saamwan mangalap siddhayaatra di saptamie syuklapaksa wulan jyestha dapunta hyang marlapas dari minanga taamwan...

(Terjemahan dalam bahasa Melayu sekarang (bahasa Indonesia): Selamat! Pada tahun saka 605 hari kesebelas pada masa terang bulan Waisyaakha, tuan kita yang mulia naik di perahu menjemput Siddhayaatra. Pada hari ketujuh, pada masa terang bulan Jyestha, tuan kita yang mulia berlepas dari Minanga Taamwan...)

Penelitian linguistik terhadap sejumlah teks menunjukkan bahwa paling sedikit terdapat dua dialek bahasa Melayu Kuna yang digunakan pada masa yang berdekatan.


Melayu Klasik
Karena terputusnya bukti-bukti tertulis pada abad ke-9 hingga abad ke-13, ahli bahasa tidak dapat menyimpulkan apakah bahasa Melayu Klasik merupakan kelanjutan dari Melayu Kuna. Catatan berbahasa Melayu Klasik pertama berasal dari Prasasti Terengganu berangka tahun 1303.

Seiring dengan berkembangnya agama Islam dimulai dari Aceh pada abad ke-14, bahasa Melayu klasik lebih berkembang dan mendominasi sampai pada tahap di mana ekspresi “Masuk Melayu” berarti masuk agama Islam.


Bahasa Indonesia
Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.

Bahasa Melayu Riau dipilih sebagai bahasa persatuan Negara Republik Indonesia atas beberapa pertimbangan sebagai berikut:

Jika bahasa Jawa digunakan, suku-suku bangsa atau puak lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan puak (golongan) mayoritas di Republik Indonesia.
Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan dengan bahasa Melayu Riau. Ada tingkatan bahasa halus, biasa, dan kasar yang dipergunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila pengguna kurang memahami budaya Jawa, ia dapat menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.
Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan Bahasa Melayu Pontianak, atau Banjarmasin, atau Samarinda, atau Maluku, atau Jakarta (Betawi), ataupun Kutai, dengan pertimbangan pertama suku Melayu berasal dari Riau, Sultan Malaka yang terakhirpun lari ke Riau selepas Malaka direbut oleh Portugis. Kedua, ia sebagai lingua franca, Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa Tionghoa Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.
Pengguna bahasa Melayu bukan hanya terbatas di Republik Indonesia. Pada tahun 1945, pengguna bahasa Melayu selain Republik Indonesia masih dijajah Inggris. Malaysia, Brunei, dan Singapura masih dijajah Inggris. Pada saat itu, dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, diharapkan di negara-negara kawasan seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa ditumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara-negara jiran di Asia Tenggara.
Dengan memilih Bahasa Melayu Riau, para pejuang kemerdekaan bersatu lagi seperti pada masa Islam berkembang di Indonesia, namun kali ini dengan tujuan persatuan dan kebangsaan.

Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian distandardisasi (dibakukan) lagi dengan nahu (tata bahasa), dan kamus baku juga diciptakan. Hal ini sudah dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.


PERISTIWA-PERISTIWA PENTING YANG BERKAITAN DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA MELAYU/ INDONESIA
Perinciannya sebagai berikut:

Pada tahun 1901 disusunlah ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. van Ophuijsen dan ia dimuat dalam Kitab Logat Melayu.
Pada tahun 1908 Pemerintah mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 ia diubah menjadi Balai Pustaka. Balai itu menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat-saat yang paling menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada tanggal itulah para pemuda pilihan mamancangkan tonggak yang kukuh untuk perjalanan bahasa Indonesia.
Pada tahun 1933 secara resmi berdirilah sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana dan kawan-kawan.
Pada tarikh 25-28 Juni 1938 dilangsungkanlah Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar RI 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
Pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tarikh 28 Oktober s.d. 2 November 1954 juga salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
Pada tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57, tahun 1972.
Pada tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
Kongres Bahasa Indonesia III yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober s.d. 2 November 1978 merupakan peristiwa penting bagi kehidupan bahasa Indonesia. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
Kongres bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada tarikh 21-26 November 1983. Ia diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
Kongres bahasa Indonesia V di Jakarta pada tarikh 28 Oktober s.d. 3 November 1988. Ia dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara (sebutan bagi negara Indonesia) dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta pada tarikh 28 Oktober s.d. 2 November 1993. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Syarikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia VII diselenggarakan di Hotel Indonesia, Jakarta pada tanggal 26-30 Oktober 1998. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa dengan ketentuan sebagai berikut.
Keanggotaannya terdiri dari tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra.
Tugasnya memberikan nasihat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta mengupayakan peningkatan status kelembagaan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

PENYEMPURNAAN EJAAN
Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/ Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:


Ejaan van Ophuijsen
Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1901 yaitu ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merancang ejaan itu yang dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:

Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.
Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.
Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dinamai’, dsb.

Ejaan Soewandi
Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini lebih dikenal dengan nama ejaan Republik. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:

Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.
Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.
Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)
Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.


Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.

Perubahan:

Indonesia
(pra-1972) Malaysia
(pra-1972) Sejak 1972
tj ch c
dj j j
ch kh kh
nj ny ny
sj sh sy
j y y
oe* u u
Catatan: Tahun 1947 "oe" sudah digantikan dengan "u".


PENGARUH TERHADAP PERBENDAHARAAN KATA
Ada empat tempo penting dari hubungan kebudayaan Indonesia dengan dunia luar yang meninggalkan jejaknya pada perbendaharaan kata Bahasa Indonesia.


Hindu
(antara abad ke-6 sampai 15 M)
Sejumlah besar kata berasal dari Sanskerta Indo-Eropa. (Contoh: samudra, suami, istri, raja, putra, pura, kepala, mantra, cinta, kaca)


Islam
(dimulai dari abad ke-13 M)
Pada tempo ini diambillah sejumlah besar kata dari bahasa Arab dan Persia (Contoh: masjid, kalbu, kitab, kursi, doa, khusus, maaf, selamat, kertas)


Kolonial
Pada tempo ini ada beberapa bahasa yang diambil, di antaranya yaitu dari Portugis (contohnya: gereja, sepatu, sabun, meja, jendela) dan Belanda (contohnya: asbak, kantor, polisi, kualitas)

Pasca-Kolonialisasi (Kemerdekaan dan seterusnya) banyak kata yang diambil berasal dari bahasa Inggris. (Contoh: konsumen, isu). Dan ada juga Neo-Sanskerta yaitu neologisme yang didasarkan pada bahasa Sanskerta, (contoh: dasawarsa, lokakarya, tunasusila)

Selain daripada itu bahasa Indonesia juga menyerap perbendaharaan katanya dari bahasa Tionghoa (contoh: pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, cukong).

Ciri-ciri lain dari Bahasa Indonesia kontemporer yaitu kesukaannya menggunakan akronim dan singkatan.


SENARAI JUMLAH KATA SERAPAN DALAM BAHASA INDONESIA
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kata serapan dalam bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah bahwa bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lainnya.

Asal Bahasa Jumlah Kata
Belanda 3.280 kata
Inggris 1.610 kata
Arab 1.495 kata
Sanskerta-Jawa Kuna 677 kata
Cina 290 kata
Portugis 131 kata
Tamil 83 kata
Parsi 63 kata
Hindi 7 kata
Sumber: Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (1996) yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang bernama Pusat Bahasa).


PENGGOLONGAN
Indonesia termasuk anggota dari Bahasa Melayu-Polinesia Barat subkelompok dari bahasa Melayu-Polinesia yang pada gilirannya merupakan cabang dari bahasa Austronesia. Menurut situs Ethnologue, bahasa Indonesia didasarkan pada bahasa Melayu dialek Riau yang dituturkan di timur laut Sumatra


DISTRIBUSI GEOGRAFIS
Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di area perkotaan (seperti di Ibukota Jakarta yang digunakan bahasa Indonesia dengan dialek Betawi serta logat Betawi).

Penggunaan bahasa di daerah biasanya lebih resmi, dan seringkali terselip dialek-dialek dan logat-logat di daerah bahasa Indonesia itu dituturkan. Untuk berkomunikasi dengan sesama orang sedaerah kadang bahasa daerahlah yang digunakan sebagai pengganti untuk bahasa Indonesia.


Kedudukan resmi
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:

Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.
Dari Kedua hal tersebut, maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai:

Bahasa kebangsaan, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.
Bahasa negara (bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)

BUNYI
Berikut adalah fonem dari bahasa indonesia mutakhir

Vokal

Depan Madya Belakang
Tertutup iː

Tengah e ə o
Hampir Terbuka (ɛ)
(ɔ)
Terbuka a

Bahasa Indonesia juga mempunyai diftong /ai/, /au/, dan /oi/. Namun, di dalam suku kata tertutup seperti air kedua vokal tidak diucapkan sebagai diftong

Konsonan

Bibir Gigi Langit2
keras Langit2
lunak Celah
suara
Sengau m n ɲ ŋ
Letup p b t d c ɟ k g ʔ
Desis (f) s (z) (ç) (x) h
Getar/Sisi
l r


Hampiran w
j

Vokal di dalam tanda kurung adalah alofon sedangkan konsonan di dalam tanda kurung adalah fonem pinjaman dan hanya muncul di dalam kata serapan.
/k/, /p/, dan /t/ tidak diaspirasikan
/t/ dan /d/ adalah konsonan gigi bukan konsonan rongga gigi seperti di dalam bahasa Inggris.
/k/ pada akhir suku kata menjadi konsonan letup celah suara
Penekanan ditempatkan pada suku kata kedua dari terakhir dari kata akar. Namun apabila suku kata ini mengandung pepet maka penekanan pindah ke suku kata terakhir.

TATA BAHASA
Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak banyak menggunakan kata bertata bahasa dengan jenis kelamin. Sebagai contoh kata ganti seperti "dia" tidak secara spesifik menunjukkan apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal yang sama juga ditemukan pada kata seperti "adik" dan "pacar" sebagai contohnya. Untuk memerinci sebuah jenis kelamin, sebuah kata sifat harus ditambahkan, "adik laki-laki" sebagai contohnya.

Ada juga kata yang berjenis kelamin, seperti contohnya "putri" dan "putra". Kata-kata seperti ini biasanya diserap dari bahasa lain (pada kasus di atas, kedua kata itu diserap dari bahasa Sanskerta melalui bahasa Jawa Kuno.

Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi bentuk jamak digunakanlah reduplikasi (perulangan kata), tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks. Sebagai contoh "seribu orang" dipakai, bukan "seribu orang-orang". Perulangan kata juga mempunyai banyak kegunaan lain, tidak terbatas pada kata benda.

Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu "kami" dan "kita". "Kami" adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang lawan bicara, sedangkan "kita" adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya.

Susunan kata dasar yaitu Subyek - Predikat - Obyek (SPO), walaupun susunan kata lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala (tense). Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, "kemarin" atau "esok"), atau petunjuk lain seperti "sudah" atau "belum".

Dengan tata bahasa yang cukup sederhana bahasa Indonesia mempunyai kerumitannya sendiri, yaitu pada penggunaan imbuhan yang mungkin akan cukup membingungkan bagi orang yang pertama kali belajar bahasa Indonesia.


DIALEK DAN RAGAM BAHASA
Pada keadaannya bahasa Indonesia menumbuhkan banyak varian yaitu varian menurut pemakai yang disebut sebagai dialek dan varian menurut pemakaian yang disebut sebagai ragam bahasa.

Dialek dibedakan atas hal ihwal berikut:

Dialek regional, yaitu rupa-rupa bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meski mereka berasal dari eka bahasa. Oleh karena itu, dikenallah bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta (Betawi), atau bahasa Melayu dialek Medan.
Dialek sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu. Contohnya dialek wanita dan dialek remaja.
Dialek temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. Contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.
Idiolek, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Sekalipun kita semua berbahasa Indonesia, kita masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.
Ragam bahasa dalam bahasa Indonesia berjumlah sangat banyak dan tidak terhad. Maka itu, ia dibagi atas dasar pokok pembicaraan, perantara pembicaraan, dan hubungan antarpembicara.

Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan meliputi:

ragam undang-undang
ragam jurnalistik
ragam ilmiah
ragam sastra
Ragam bahasa menurut hubungan antarpembicara dibagi atas:

ragam lisan, terdiri dari:
ragam percakapan
ragam pidato
ragam kuliah
ragam panggung
ragam tulis, terdiri dari:
ragam teknis
ragam undang-undang
ragam catatan
ragam surat-menyurat

Dalam kenyataannya, bahasa baku tidak dapat digunakan untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk:

komunikasi resmi
wacana teknis
pembicaraan di depan khalayak ramai
pembicaraan dengan orang yang dihormati
Selain keempat penggunaan tersebut, dipakailah ragam bukan baku.


LIHAT PULA
Peribahasa Indonesia
Bahasa Melayu
Kata serapan dalam bahasa Indonesia
Daftar kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia
Daftar kata serapan dari bahasa Persia dalam bahasa Indonesia
Daftar kata serapan dari bahasa Portugis dalam bahasa Indonesia
Daftar kata serapan dari bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia
Daftar kata serapan dari bahasa Sansekerta dalam bahasa Indonesia
Daftar kata serapan dari bahasa Tionghoa dalam bahasa Indonesia
Daftar kata serapan dari bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia
Perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia
Perbedaan antara sebutan bahasa Melayu basahan dan bahasa Indonesia

PRANALA LUAR

Lihat informasi mengenai Bahasa Indonesia di KamusWiki.
(en) Wikibooks - Belajar Bahasa Indonesia
(id) Tentang Bahasa Indonesia
(en) Belajar Bahasa Indonesia
(en) Learning Indonesian on the Internet
(en) Indonesia WWW Virtual Library
(id) Kamus Online Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia
(id) Kamus Online Indonesia-Inggris-Indonesia
(id) Kamus Offline Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia
(en) Kamus Online Indonesia-Berbagai Bahasa dan Berbagai Bahasa-Indonesia
(en) Learn Indonesian online
(id) Pentejermah Bahasa Indonesia-Inggris
(de) (id) Kamus dwibahasa online Indonesia-Jerman
(id) (en) Learn Bahasa Indonesia by Phone
(id) KBBI Daring




Sumber : Wikipedia

Menggali Kreativitas Menulis

Sering kita buntu mau menulis apa lagi ya ? berikut saya sharingkan suatu tips meningkatkan kreativitas termasuk kreativitas menulis dengan metoda SCAMPER yang dibuat oleh “Michael Michalko Author of thinkertoys” . Berikut tehniknya :

1. Modify — modifikasi sesuatu

• Modifikasi = mengubah bagian dari suatu subyek agar lebih menarik dan lebih baik. Bisa arti, tujuan, kegunaan, proses, aturan, warna, gerakan, suara, bau, bentuk, fungsi, dll.

Contoh : saat semua menulis kematian soeharto, saya buat kematian soeharto dari sudut lain : Soeharto meninggal dalam alunan musik Jazz

2. Magnify — menguatkan/membesarkan sesuatu

• Ide baru muncul dengan menambahkan, melebarkan, atau melebih-lebihkan subyeknya.

Contoh : artikel sederhana tentang rekening bank emosi (kualitas hubungan antar manusia) tapi coba dikuatkan dengan dengan tokoh SBY & Mega : SBY-JK selalu menjawab kritik Mega

3. Put to other uses — memberikan fungsi yang lain

*
Melihat suatu subyek bebas dari persepsi yang terbentuk selama ini, seolah2 pertama kali kita melihat, pasti kita dapat melihat hal yang lain dari subyek tsb.
*
Cth: yang ini saya rada sulit kasih contoh artikel WP. Tapi ada contoh umum mengenai Cake coklat bantat yang tadinya dianggap sebagai produk gagal, ternyata dapat menjadi sebuah produk yang sangat digemari yaitu BROWNIES COKLAT.

4. Eliminate — menghilangkan sesuatu• Ide2 bisa muncul saat mengurangi sesuatu. Misal dengan bertanya: Dapatkah masalah disederhanakan/ dibatasi/ dipecah2 menjadi yang lebih kecil/ diringankan?; Mana fungsi/atribut yang sebetulnya tidak penting ?

• Cth: banyak artikel mengenai UN, saya menghilangkan soal-soal UN yang sudah banyak menjadi hanya : Tips menghadapi UN (sebuah pengalaman mencapai NEM tertinggi..)

5. Reverse – membalikkan sesuatu

• Membalikkan perspektif untuk membuka cara pandang baru dan dapat melihat hal-hal yang lain. Misal dengan bertanya: Apa kebalikan dari hal ini? Apa yang akan terjadi?

• Cth: Orang berlomba-lomba ingin masuk toplist, tapi pak Budi rahardjo menulis Setelah Populer, lantas ?

6. Rearrange-menata ulang

*
Kreativitas terjadi melalui ”penataan ulang” dari hal yang sudah kita ketahui. Spt: masalah, pemikiran, prioritas, kebiasaan, cara, ruang kerja, urutan proses, dll.
*

Alat Gaul Gratis Di Ponsel

Saat ini, banyak beredar aplikasi jaringan pertemanan yang bisa berjalan di ponsel. Namun umumnya setiap aplikasi hanya memiliki satu fungsi, misalnya hanya bisa chatting, cek e-mail, atau menyimpan phonebook. Dengan Nimbuzz, banyak kebutuhan pertemanan sosial akan terjawab, dalam satu aplikasi.

Didirikan 2006 dan berkantor pusat di Belanda, Nimbuzz merupakan aplikasi Java gratis yang menawarkan satu kesatuan fungsi bagi pengguna komunikasi bergerak, termasuk di PC dan Web, untuk melakukan panggilan, conference call, instant messaging, chatting dalam grup atau privat, serta berbagi file/foto pada berbagai komunitas IM seperti Skype, Windows Live Messenger, Google Talk, YahooMessenger, AIM, Jabber dan ICQ, termasuk Facebook dan MySpace.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh Nimbuzz, dan semuanya gratis. Anda hanya perlu biaya untuk akses GPRS sesuai tarif operator. Nimbuzz bisa melakukan panggilan VoIP ke sesama ponsel, chatting, membuat ruang chatting sendiri untuk diskusi terbatas, berbagi file/foto/ringtone, berkirim SMS ke sesama pengguna Nimbuzz, menaruh pesan suara (Voice mail), menyimpan file-file dengan kapasitas tak terbatas, menyimpan phonebook dan melakukan backup , atau mengundang rekan pengguna Nimbuzz yang sedang Offline.

Enaknya lagi, semua fitur Nimbuzz ini bisa diakses baik dari ponsel Java (500 tipe dari 22 merek ponsel) atau pun PC. Tentunya dibutuhkan akses Internet untuk mengaksesnya.

Inilah caranya:

1. Lakukan instalasi (http://www.nimbuzz.com/en/download/options) dan aktifkan Nimbuzz. Pilih Start Test untuk mulai menguji koneksi dari ponsel ke server Nimbuzz. Pilih Yes saat muncul pesan bahwa aplikasi akan mengirimkan data, yang berarti mengaktifkan GPRS.

2. Tunggu beberapa saat sampai proses testing selesai. Jika berhasil, akan muncul pesan bahwa proses testing telah berhasil.

3. Lanjutkan dengan Register as new user untuk melakukan pendaftaran pertama kali. Isikan data-data yang diperlukan seperti Username, Password, dan alamat e-mail. Tunggu beberapa saat, Nimbuzz akan menyimpan data ke server-nya.

4. Agar bisa menggunakan fitur Call atau Buzz (mengajak bicara anggota yang sedang Offline), masukkan nomor telepon. Pilih benua Asia dan negara Indonesia. Lalu masukkan nomor telepon Anda.

5. Berikutnya, Anda akan diberi pilihan apakah akan melakukan panggilan (Call) dan Chating ke IM lain. Jika ya, maka pilih beberapa IM yang ada di daftar, misalnya YahooMessenger.

6. Agar bisa berkenalan dengan anggota lain, Anda perlu membuat Profile pribadi yang bisa dibaca oleh anggota Nimbuzz lain. Masukkan data pribadi Anda, lalu Ok.

7. Anda akan dibawa masuk ke menu utama Nimbuzz, yang berisi Messages, Online gallery, Phonebook, dan Chat rooms. Anda bisa melakukan pengaturan aplikasi, lewat Menu>Settings. Ada banyak yang bisa dilakukan, misalnya pengaturan Contact list, Display, Camera, Connection Type, Data Counter, Templates, notifikasi Incoming Call/New chat message/New message.

8. Di bagian Message, bisa dilakukan pengiriman pesan teks, pesan suara atau foto.
Di bagian Chat rooms, Anda bisa melihat semua judul ruang chatting yang ada dan ikut nimbrung di dalamnya. Anda juga bisa membuat ruang chat sendiri, baik bersifat umum ataupun tertutup (privat).

9. Jika dilihat di bagian List all chat rooms, maka akan muncul 2979 ruang chat di dalam server Nimbuzz.

10. Jika ada pesan SMS dari sesama anggota Nimbuzz, akan muncul pesan You have received 1 message(s). Pilih Show untuk membacanya. Pesan SMS yang dikirimkan hanya membutuhkan biaya sangat kecil karena dikirimkan lewat GPRS, bukan lewat jalur SMS biasa.

Sinopsis Ayat-ayat Cinta

Ayat-ayat cinta adalah sebuah novel 411 halaman yang ditulis oleh seorang novelis muda Indonesia kelahiran 30 September 1976 yang bernama Habiburrahman El-Shirazy. Ia adalah seorang sarjana lulusan Mesir dan sekarang sudah kembali ke tanah air. Sepintas lalu, novel ini seperti novel-novel Islami kebanyakan yang mencoba menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari novel Islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam, khususnya buat para kawula muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa.

Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya; yang satu adalah mahasiswa Indonesia yang sedang studi Universitas Al-Azhar Mesir, dan yang satunya lagi adalah mahasiswi asal Jerman yang kebetulan juga sedang studi di Mesir. Kisah percintaan ini berawal ketika mereka secara tak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro (sejenis trem).

Mein Neim Ist Aisha
------------------------------
Pada waktu itu, si pemuda yang bernama lengkap Fahri bin Abdullah Shiddiq, sedang dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman Abdul Fattah, seorang Syaikh yang cukup tersohor di seantero Mesir. kepadanya Fahri belajar tentang qiraah Sab'ah (membaca Al-Qur'an dengan riwayat tujuh imam) dan ushul tafsir (ilmu tafsir paling pokok). Hal ini sudah biasa dilakukannya setiap dua kali seminggu, setiap hari Ahad/Minggu dan Rabu. Dia sama sekali tidak pernah melewatkannya walau suhu udara panas menyengat dan badai debu sekalipun. Karena baginya itu merupakan suatu kewajiban karena tidak semua orang bisa belajar pada Syaikh Utsman yang sangat selektif dalam memilih murid dan dia termasuk salah seorang yang beruntung.

Di dalam metro, Fahri tidak mendapatkan tempat untuk duduk, mau tidak mau dia harus berdiri sambil menunggu ada kursi yang kosong. Kemudian ia berkenalan dengan seorang pemuda mesir bernama Ashraf yang juga seorang Muslim. Merteka bewrcerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian Ashraf kepada Amerika. Tak berapa lama kemudian, ada tiga orang bule yang berkewarganegaraan Amerika (dua perempuan dan satu laki-laki) naik ke dalam metro. Satu diantara dua perempuan itu adalah seorang nenek yang kelihatannya sudah sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat duduknya apabila ada wanita yang tidak mendapatkan tempat duduk, namun kali ini tidak. Mungkin karena kebencian mereka yang teramat sangat kepada Amerika. Sampai pada suatu saat, ketika si nenek hendak duduk menggelosor di lantai, ada seorang perempuan bercadar putih bersih yang sebelumnya dipersilahkan Fahri untuk duduk di bangku kosong yang sebenarnya bisa didudukinya, memberikan kursinya untuk nenek tersebut dan meminta maaf atas pwerlakuan orang-orang Mesir lainnya. Disinilah awal perdebatan itu terjadi. Orang-orang Mesir yang kebetulan mengerti bahasa Inggris merasa tersinggung dengan ucapan si gadis bercadar. Mereka mengeluarkan berbagai umpatan dan makian kepada sang gadis, dan ia pun hanya bisa menangis. Kemudian Fahri berusaha untuk meredakn perdebatan itu dengan menyuruh mereka membaca shalawat Nabi karena biasannya dengan shalawat Nabi, orang Mesir akan luluh kemarahannya dan ternyata berhasil. Lalu ia mencoba menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan perempuan bercadar itu benar, dan umpatan-umpatan itu tidak layak untuk dilontarkan. Namun apa yang terjadi, orang-orang Mesir itu kembali mrah dan meminta Fahri untuk tidak ikut campur dan jangan sok alim karena juz Amma saja belumtentu ia hafal. Kemudian emosi mereka mereda ketika Ashraf yang juga ikut memaki perempuan bercadar itu, mengatakan bahwa Fahri adalah mahasiswa Al-Azhar dan hafal Al-Qur'an dan juga murid dari Syaikh Utsman yang terkenal itu. Lantas orang-orang Mesir itu meminta maaf pada fahri. Fahri kemudian menjelaskan bahwasanya mereka tidak seharusnya bertindak seperti itu karena ajaran Baginda Nabi tidak seperti itu. Lalu ia pun menjelaskan bagaimana seharusnya bersikap kepada tamu apalagi orang asing sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Mereka pun mengucapkan terima kasih pada fahri karena sudah megingatkan mereka. Sementara itu, si bule perempuan muda, Alicia, sedang mendengarkan penjelasan tentang apa yang terjadi dari si perempuan bercadar dengan bahasa Inggris yang fasih.Kemudian Alicia berterima kasih dan menyerahkan kartu namanya pada Fahri. Tak berapa lama kemudian metro berhenti dan perempuan bercadar itupun bersiap untuk turun. Sebelum turun ia mengucapkan terima kasih pada Fahri karena sudah menolongnya tadi. Akhirnya mereka pun berkenalan. Dan ternyata si gadis itu bukanlah orang Mesir melainkan gadis asal Jerman yang sedang studi di Mesir. Ia bernama Aisha.

Maria, Gadis Koptik yang Aneh
---------------------------------------------
Di Mesir, Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga berasal dari Indonesia, yaitu Saiful, Rudi, Hamdi dan Misbah. Fahri sudah tujuh tahun hidup di Mesir. Mereka tinggal di sebuah apartemen sederhana yang mempunyai dua lantai, dimana lantai dasar menjadi tempat tinggal Fahri dan empat temannya, sedangkan yang lantai atas ditempati oleh sebuah keluarga Kristen Koptik yang sekaligus menjadi tetangga mereka. Keluarga ini terdiri dari Tuan Boutros, Madame Nahed, dan dua orang anak mereka - Maria dan Yousef. Walau keyakinan dan aqidah mereka berbeda, namun antara keluarga Fahri (Fahri dkk) dan keluarga Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Di Mesir, bukanlah suatu keanehan apabila keluarga Kristen koptik dan keluarga Muslim dapat hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat. Keluarga ini sangat akrab dengan Fahri terutama Maria. Maria adalah seorang gadis Mesir yang manis dan baik budi pekertinya. Kendati demikian, Fahri menyebutnya sebagai gadis koptik yang aneh, karena walaupun Maria itu seorang non-muslim ia mampu menghafal dua surah yang ada dalam Al-Quran dengan baik yang belum tentu seorang Muslim mampu melakukannya. Ia hafal surat Al-Maidah dan surah Maryam. Fahri juga baru mengetahuinya ketika mereka secara tak sengaja bertemu di metro. Seluruh anggota keluarga Boutros sangat baik kepada Fahri dkk. Bahkan ketika Fahri jatuh sakit pun keluarga ini jugalah yang membantu membawa ke rumah sakit dan merawatnya selain keempat orang teman Fahri. Apalagi Maria, dia sangat memperhatikan kesehatan Fahri. Keluarga ini juga tidak segan-segan mengajak Fahri dkk untuk makan di restoran berbintang di tepi sungai Nil,kebanggaan kota Mesir, sebagai balasan atas kado yang mereka berikan. Pada waktu itu Madame Nahed berulang-tahun dan malam sebelumnya Fahri dkk memberikan kado untuknya hanya karena ingin menyenangkan hati beliau karena bagi Fahri menyenangkan hati orang lain adalah wajib hukumnya. Setelah makan malam, tuan dan nyonya Boutros ingin berdansa sejenak. Madame Nahed meminta Fahri untuk mengajak Maria berdansa karena Maria tidak pernah mau di ajak berdansa. Setelah tuan dan nyonya Boutros melangkah ke lantai dansa dan terhanyut dengan alunan musik yang syahdu, Maria pun memberanikan diri mengajak Fahri untuk berdansa, namun Fahri menolaknya dengan alasan Maria bukan mahramnya kemudian menjelaskannya dengan lebih detail. Begitulah Fahri, ia selalu berusaha untuk menjunjung tinggi ajaran agama yang dianutnya dan selalu menerapkannya dalm kehidupan sehari-hari.

Si Muka Dingin Bahadur dan Noura yang Malang
----------------------------------------------------------------------
Selain bertetangga dengan keluarga Boutros, Fahri juga mempunyai tetangga lain berkulit hitam yang perangainya berbanding 180 derajat dengan keluarga Boutros. Kepala keluarga ini bernama Bahadur yang terkenal dengan julukan si Muka Dingin karena ia selalu berperangai kasar kepada siapa saja bahkan dengan istrinya madame Syaima dan putri bungsunya Noura. Bahadur dan istrinya mempunyai tiga orang putri, Mona, Suzanna, dan Noura. Mona dan Suzanna berkulit hitam namun tidak halnya dengan Noura, dia berkulit putih dan berambut pirang. Hali inilah ang membuat Noura dimusuhi keluarganya yang pada akhirnya membuat dirinya tercebur kedalam penderitaan yang amat sangat. Bahadur mempunyai watak yang keras dan bicaranya sangat kasar, Nouralah yang selalu menjadi sasaran kemarahannya. Dan kedua orang saudaranya yang juga tidak menyukai Noura mengambil kesempatan ini untuk ikut-ikutan memaki dirinya. Sampai tibalah pada suatu malam yang tragis dimana Bahadur menyeret Noura ke jalanan dan punggungnya penuh dengan luka cambukan. Hal ini sudah sering terjadi, namun malam itu yang terparah. Tak ada satu orang pun yang berani menolong. Selain hari sudah larut, Bahadur juga dikenal amat kejam. Akhirnya, karena sudah tak tahan lagi melihat penderitaan Noura, Fahri pun meminta bantuan Maria melaui sms untuk menolong Noura. Awalnya Maria menolak karena tidak mau keluarganya terlibat dengan keluarga Bahadur. Namun setelah Fahri memohon agar Maria mau menolongnya demi kecintaan Maria terhadap Al-Masih, Maria akhirnya luluh juga. Jadilah malam itu Noura menginap di rumah keluarga Boutros. Malam ini jualah yang akhirnya menghantarkan Fahri ke dalam penderitaan yang amat sangat dan juga membuatnya hampir kehilangan kesempatan untuk hidup di dunia fana ini.