Daftar Blog Saya

Rabu, 19 Mei 2010

Semu

Kadang kita anggap harapan
walau kenyataan itu khayalan
kadang kita anggap pasti
walai itu hanya mimpi
seperti lazuardi di horizon
terasa dekat meski
tak mungkin kita mendekat
seperti harapku padamu
semakin semu
semakin kau tak memberi kemungkinan
bahkan tuk menjawab sekalipun
semakin menjadi hayalan
bagiku
(2009)

Selasa, 18 Mei 2010

Grandma

Kau begitu menyayangiku//melebihi pada semua yang kau miliki//kutau dengan pasti//begitupun aku//menyayangimu melebihi pada diri sendiri//kutahu hidupmu tak seperti yang kau harapkan//penuh liku dan beban//hidup dimadu dengan sebelas buah cinta//tapi kau tak peduli dengan apapun//hanya sebelas anak itu yang ada di kalbumu//berat kau bilang menerima semua//tapi peduli apa dengan itu//asal dapat membesarkan dan hidup bersama sebelas buah cintamu//ketabahan dan ketegaran yang melebihi apapun//dapat menerima semua itu//tak tertandingi//tak terkata dengan semua ungkapan yang ada//memang harapan kadang tak nyata//derita kau tantang dengan lantang//di akhir hari-harimu//tak ada satu pun buah cinta itu//mendampingi hembusan terakhir nafasmu//kau pergi tepat dalam pelukku/tepat di depan mataku//tanpa sebelas buah cinta yang kau rawat//tak satupun di antara mereka ada//tapi kutahu kau akan tetap tak peduli//dengan apa yang kau terima//asal tugas telah kau selesaikan dengan bijaksana//bahagilah di sana//Tuhan terimalah ia//ampuni semua khilaf dan dosa//Tuhan berilah tempat indah di sana//yang tak pernah ia rasa selama ada nyawa//Tuhan jagalah ia//Amin. (Firdy, Tangerang 2010)

ga da

Di sudut yang terlepas pandang
ada hati sedang menanti
mengharap dan bermimpi
agar di suatu hari nanti
hadirnya disedari

Di sudut yang terlepas pandang
ada cinta sedang menunggu
dengan sejuta rasa pilu
tatkala kasihnya pergi berlalu
tanpa menjenguk dia di situ

Di sudut yang terlepas pandang
dia menangis tidak berhenti
luluh hancur, harapannya mati
cintanya punah di penghujung hari

lalu dia keluar dari sudut yang gelap
lantas berlari ke bawah mentari
membawa cintanya yang masih berbaki
lusuh pudar dan tidak berseri

lantas dia menoleh
ke sudut gelap terlepas pandang
dimana dia pernah sembunyikan perasaan
dimana dia pernah catatkan sebuah pengharapan

Permenungan III

Aku tahu
aku lahir untuk kalah
hingga dapat kuarasakan
nikmatnya kekalahan
dan aku tahu
aku lahir untuk menang
hingga kemenangan dapat kukenang
yah! kini sudah kutahu
aku lahir untuk kalah dan lalu menang
atau sebaliknya
atau bahkan tidak semua
karena aku masih di dunia
(Firdy, Malang 1999)

permenungan II

kini dapat kunikmati duka
duka penempuhan segala rasa
s'lalu sapa ini nurani
kali pertama kurasa
bagai batu menggelinding dada
kali kedua, kuhanya tertunduk layu
dan kali seterusnya
aku teriak "duka datanglah, sebab karenanmu aku bisa tetap berdiri di bumi
(firdy, Malang, 1999)

Hujan

slalu ada bayang wajahmu dalam setiap jatuhnya titik air hujan
yang kupandang//dalam setiap tarikan nafas yang kuhela//slalu ada cinta
tuk hempaskan lelahmu//anganku tak pernah tak menujumu//yakinkanlah
hatimu (dapet kata 4 u minggu 16 mei 2010 wktu hujan turun)

KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS, LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU, Kata Si Toni

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini

1998

Taufik Ismail

Minggu, 16 Mei 2010

Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana

Kau ini bagaimana

Kau bilang aku merdeka

Kau memilihkan untukku segalanya

Kau suruh aku berpikir

Aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana?

Kau bilang bergeraklah

Aku bergerak kau curigai

Kau bilang jangan banyak tingkah

Aku diam saja kau waspadai.

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku memedang prinsip

Aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku

Kau suruh aku toleran

Aku toleran kau bilang aku plinpan

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh maju

Aku mau maju kau srimpung kakiku

Kau suruh bekerja

Aku bekerja kang ganggu aku

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku takwa

Khotbah keagamaanmu membuatku skait jiwa

Kau suruh aku mengikuti, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh menghormati hukum

Kebijaksanaanmu menyepelakannya

Aku kau suruh berdisiplin

Kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana

Kau bilang Tuhan sangat dekat

Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras

Suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai

Kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh membangun

Aku membangun kau merusakannya

Aku kau suruh menabung

Aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku menggarap sawah

Sawahku kau Tanami rumah-rumah

Kau bilang kau harus punya rumah

Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana

Aku kau larang berjudi

Permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggung jawab

Kau sendiri terus berucap wallahu’alam bisshowab

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku jujur

Aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar

Aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku

Sudah kupilih kau bertindak semaumu

Aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana

Kau bilang bicaralah

Aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang jangan binyak bicara

Aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana

Kau bilang kritiklah

Aku kritik kau marah

Kau bilang carikan alternatifnya

Aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana

Aku bilang terserah kau

Kau tidak mau

Aku bilang terserah kita

Kau tak suka

Aku bilang terserah aku

Kau memakiku

Kau ini bagaimana

Atau aku harus bagaimana

Mustofa Bisri

Permenungan I

Aku tahu
aku lahir untuk kalah
hingga dapat kuarasakan
nikmatnya kekalahan
dan aku tahu
aku lahir untuk menang
hingga kemenangan dapat kukenang
yah!
kini sudah kutahu
aku lahir untuk kalah dan lalu menang
atau sebaliknya
atau bahkan tidak semua
karena aku masih di dunia
(firdy, Malang-1999)