Rabu, 19 Mei 2010
Semu
walau kenyataan itu khayalan
kadang kita anggap pasti
walai itu hanya mimpi
seperti lazuardi di horizon
terasa dekat meski
tak mungkin kita mendekat
seperti harapku padamu
semakin semu
semakin kau tak memberi kemungkinan
bahkan tuk menjawab sekalipun
semakin menjadi hayalan
bagiku
(2009)
Selasa, 18 Mei 2010
Grandma
ga da
ada hati sedang menanti
mengharap dan bermimpi
agar di suatu hari nanti
hadirnya disedari
Di sudut yang terlepas pandang
ada cinta sedang menunggu
dengan sejuta rasa pilu
tatkala kasihnya pergi berlalu
tanpa menjenguk dia di situ
Di sudut yang terlepas pandang
dia menangis tidak berhenti
luluh hancur, harapannya mati
cintanya punah di penghujung hari
lalu dia keluar dari sudut yang gelap
lantas berlari ke bawah mentari
membawa cintanya yang masih berbaki
lusuh pudar dan tidak berseri
lantas dia menoleh
ke sudut gelap terlepas pandang
dimana dia pernah sembunyikan perasaan
dimana dia pernah catatkan sebuah pengharapan
Permenungan III
aku lahir untuk kalah
hingga dapat kuarasakan
nikmatnya kekalahan
dan aku tahu
aku lahir untuk menang
hingga kemenangan dapat kukenang
yah! kini sudah kutahu
aku lahir untuk kalah dan lalu menang
atau sebaliknya
atau bahkan tidak semua
karena aku masih di dunia
(Firdy, Malang 1999)
permenungan II
duka penempuhan segala rasa
s'lalu sapa ini nurani
kali pertama kurasa
bagai batu menggelinding dada
kali kedua, kuhanya tertunduk layu
dan kali seterusnya
aku teriak "duka datanglah, sebab karenanmu aku bisa tetap berdiri di bumi
(firdy, Malang, 1999)
Hujan
yang kupandang//dalam setiap tarikan nafas yang kuhela//slalu ada cinta
tuk hempaskan lelahmu//anganku tak pernah tak menujumu//yakinkanlah
hatimu (dapet kata 4 u minggu 16 mei 2010 wktu hujan turun)
KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS, LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU, Kata Si Toni
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini
1998
Taufik Ismail
Minggu, 16 Mei 2010
Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana
Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka
Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir
Aku berpikir kau tuduh aku kapir
Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah
Aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau waspadai.
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memedang prinsip
Aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran
Aku toleran kau bilang aku plinpan
Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju
Aku mau maju kau srimpung kakiku
Kau suruh bekerja
Aku bekerja kang ganggu aku
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku takwa
Khotbah keagamaanmu membuatku skait jiwa
Kau suruh aku mengikuti, langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum
Kebijaksanaanmu menyepelakannya
Aku kau suruh berdisiplin
Kau mencontohkan yang lain
Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras
Suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai
Kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun
Aku membangun kau merusakannya
Aku kau suruh menabung
Aku menabung kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah
Sawahku kau Tanami rumah-rumah
Kau bilang kau harus punya rumah
Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi
Permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab
Kau sendiri terus berucap wallahu’alam bisshowab
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur
Aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar
Aku sabar kau injak tengkukku
Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku
Sudah kupilih kau bertindak semaumu
Aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah
Aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan binyak bicara
Aku bungkam kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah
Aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau
Kau tidak mau
Aku bilang terserah kita
Kau tak suka
Aku bilang terserah aku
Kau memakiku
Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
Mustofa Bisri
Permenungan I
aku lahir untuk kalah
hingga dapat kuarasakan
nikmatnya kekalahan
dan aku tahu
aku lahir untuk menang
hingga kemenangan dapat kukenang
yah!
kini sudah kutahu
aku lahir untuk kalah dan lalu menang
atau sebaliknya
atau bahkan tidak semua
karena aku masih di dunia
(firdy, Malang-1999)