Hari ini matahari tidaklah perkasa. hempasan air begitu mesra membelai waktu yang bergulir hampir selama 12 jam lamanya, bahkan lebih jika digabungkan dengan tadi malam. tapi tidak dengan cahaya yang bersinar di hati, begitu terang sinari waktu diri. seperti biasa, sepeda motor tua itu dengan tulisan khas kaligrafi di dashboard depan dan tulisan "lelaki" di knalpotnya, membelah jalan raya yang dipayungi gerimis, tak peduli ia dengan gerimis itu, masih seperti dulu deru motor itu, lewati satu persatu pengendara yang lain, sebab sang lelaki takut juga gerimis menjadi hujan, ya ia takut, tapi bukan takut ia kehujanan, ia lebih takut motor tuanya kehujanan dan terus menjadi mogok, yah motor tua itu tak begitu kuat bila terkena hujan. hahahhaha. berbelok ia keluar dari jalan utama, menuju jalan alternatif yang rusak dan berlubang, tak heran juga ia dengan jalan seperti demikian, sampai pada suatu kubangan yang airnya berlumpur, karena mobil-mobil yang lewat mengaduk-aduk air dan lumpur yang ada, kuning kecoklatan. Oh Tuhan, anak-anak kecil bermain di kubangan jalan itu, air kotor itu begitu menjijikan untuk dilihat, yah untuk dilihat pun begitu menjijikan, tapi sekelompok anak kecil itu bermain berenang di kubangan itu. tak berapa lama, lewatlah sebuah mobil fuso dari komplek pabrik yang ada di ujung jalan, berlarilah anak-anak itu ke tepi menghindar, sebab mobil melewati kubangan itu tuk mengaduk air dan lumpur yang ada. setelah lewat anak-anak kecil yang riang itu, kembali ke dalam kubangan yang semakin keruh. oooh beginikah negeriku, tak ada lagi tempat bagi anak-anak tuk belajar berenang, tak ada lagikah parit jernih tempat anak-anak bermain air. ini bukan Indonesia yang kukenal dahulu ketika kecil, ketika aku bebas bermain air di manapun tanpa lumpur, bahkan disungai sekalipun. Oh Tuhan, ini bukan Indonesia yang kukenal, negeri makmur nan subur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar