Daftar Blog Saya

Jumat, 18 Juni 2010

Catatan tentang kesedihan

di hari ketiga di bulan setelah mei, si F memacu sepeda motor tuanya, semangatnya begitu menggebu, wussss, tak ada satupun mobil dan motor yang mampu menyalipnya, motornya melayang bersama kasih Tuhan. ia begitu egois tuk tak lakukan apapun demi menemuinya, ia begitu keras kepala tuk mengabaikan semua, saat di jalan, hp nya bergetar "ass, ga usah ke sini yah??" tlp sang putri "dah naek motor, dah dijalan" sergah F, "kan aku kerja siang, trus lu juga kerja" timpal sang putri "ga pa2 biar sebentar menemui sayang, trus anterin dan jaga sayang sampai ke tempat kerja, kalau aku ga peduli, mau dipecat karena ga masuk kerja ga apa-apa, asal hari ini bisa menjaga dan mengantarmu ke tempat kerja" jawab F, lalu wusss sepeda motor butut kembali ngebut. sampailah di sebuah pertigaan, motor miliknya yang paling berharga ia titipkan dan simpan, tak lupa ia beri senyuman "sahabat, temanmu akan laksanakan satu kewajiban". hahahahaha emang gila, motornya pun F sapa.
menunggu tak membosankan kali itu, yah ia duduk di "gardil" jalan, menunggu mobil yang melintas, tak lama berselang, -sebab ia jalan dengan membawa kasih sayang, maka selalu ada kemudahan- mobil kecil angkutan tlah penuh, ia pun taklagi menunggu mobil yang lain, segera ia naik di deret bangku paling belakang. nasib baik sedang berpayung pada jiwanya, mobil yang ia naiki kebut bukan kepalang, sehingga tak lama ia akan bertemu yang di sayang. tak lama berselang, di pertengan perjalanan pada sebuah jalan tol, tiba2 ada suara yang sangat keras, "duooor", gila benar-benar gila, sungguh mengagetkan suara itu, ibu-ibu yang duduk disebelahku langsung reflek merunduk dan berucap, astagfirullah, sementara yang lain ada yang berucap Allahu Akbar, mereka mengira mobil yang kami tumpangi yang mengalami, oooch Tuhan benar2 menyayangiku, ternyata ada mobil trailer yang pecah ban, lalu ibu di sebelahku menarik nafas lega dan tersenyum bangga.
akhirnya sampailah F di tempat pemberhentian yang dituju, ia turun dan segera bergegas ke tepi jalan, keluar dari pintu tol menuju pintu keluar pagar. ia berjalan setengah berlari menyebrang jalan "ah ada warung kopi, mau duduk aku sebentar, ngopi dulu trus nelpon" gumam hatinya. ya, ia singgah dan duduk di warung itu. "kopi satu bu" dengan santai ia memesan. lalu hp nya bergetar "dah sampe mana?" tanya yang disayang "nih dah mpe, dah turun dari mobil, lagi ngopi dulu" jawabnya "iya sebentar tunggu, aku berangkat, kalau udah ngopi jalan ke depan pintu gerbang ......., tunggu disitu" ucap sang sayang. selesai kopi di reguk, ia berjalan mencari pintu gerbang "Bang, pintu gerbang ..... sebelah mana?" tanya F pada tukang ojek yang berjajar, yah jalanlah ia sesuai petunjuk sang tukang ojek. sampai di depan pintu gerbang sebuah gedung menjulang. HP kmbali bergetar"dah sampe belum di depan gerbang, kalau udah nyebrang jalan tunggu di pojok jalan sebrang situ, aku sbntar lagi sampai" ucap sang putri, tak tunggu hp mati ia segera berlari menyebrang jalan yang tak sepi, sampai di sebrang, tak lama bersalang datanglah yang dinanti, oh ini yang kunanti, terima kasih Tuhan.
Naiklah F dan sang putri, duduk brdua brdampingan dalam mobil yang bener2 ga layak jalan, yah dikota ini memang begini, mobil jelek dan ga layak masih banyak. ia pandang wajah sang putri, ia genggam tangan indahnya, oh Tuhan ada bahagia di hatinya, terpancar dari senyum wajahnya, semakin keras ia genggam tangan sang putri, dan rambutnya mengibas ke wajah F, oh Tuhan tak ada syukurku selain lihat bahagianya, ia kecup mesra kepala sang putri, "sayang" ucapnya, dan senyum sang putri kembali berseri. tak lama berselang, hp snag putri bergetar yah ada sms dari seseorang, tak ada nama di nomornya tapi disebutkan dalam pesannya, aku tersenyum membacanya, yah kutau wanita itu, banyak pesan ia kirim, aku pun sempat membalasnya dengan senyum getir, yah orang yang dulu mengisi hati sang putri sedang mengirim pesan lewat sang teman. aku tersenyum, yah ikut membalas sekali2. heheheh tertawa sikit aku dan sang putri. setelah meliuk di jalan ibu kota, tibalah di tempat yang dituju, yah F baru kali pertama ke tempat itu, ramai nian di sana. "hayu kita naik, nyari tempat duduk di atas, biasanya di depan kasir ada kursi panjang" ucap sang putri. sampai di atas sebuah mall, didapatlah tempat duduk persis di dapan pintu keluar kasir, duduk F dengan sang putri, berdekatan ia tak henti menatap wajah penuh senyum itu. ia genggam jemarinya, tak pernah ia lepaskan. "aku benar2 menyayangimu" ucap F, "yah aku pun sama" jawab sang putri. okh Tuhan betapa Kau begitu menyayangiku. sementara orang berlalu lalang tak pernah ia pedulikan, sampailah ada orang yang duduk di sebelah sang putri, tapi mereka tetap tak peduli, tak pernah lepas dari genggaman jemari sang kekasih, yah begitu ia menyayanginya. "ini mungkin pertama dan terakhir kita berjumpa' ucapnya "yah sayang, biarlah asal sayang bahagia" meski tak ikhlas F harus menerima, itulah rasa sayang, pengorbanan dan semua tentang cinta. meski terbayang kepahitan, ia kan tetap sayang.
waktu bgitu cepat tiba waktunya kami pulang, sebab sang putri harus tunaikan kewajiban. yah mungkin itu pertemuan pertama dan terakhir seperti ucapnya. kmbali kami naik mobil, tak pernah kulepas genggaman tangannya, begitu ada kedamaian di sana. yah tak kulepas, dan rambutnya yang terurai, kadang bersandar pada bahuku dan kukecup sayang ia. yah memang menyayanginya sepenuh hati. tiba bisa di sebuah pertigaan, turun dan kmbali menunggu sebuah angkutan, lalu melintaslah angkutan yang ia tunggu, F duduk berdampingan, hari itu ia tak ingin jauh sedikitpun dari sang putri. sampai ditempat kerja, mereka turun, mulai ada kesedihan di hatinya, tapi demi bahagaia sang putri, senyumnya tetap F berikan, tak lama berselang angkutan mulai terlihat, gamang ia pegang tangan sang putri, ia kecup kening sang putri dengan kasih sayang, yah ketulusan sebuah rasa sayang, besarnya cinta dan pengorbanan, lalu ia ucapkan kata "sayang!!!", yah itulah kecupan penghabisan, kini ia kembali ditinggalkan, cuma satu harapnya, bahagilah sang putri. kini F kembali terluka namun tetap dengan senyuman, senyuman atas bahagianya sang putri. Tuhan Bahagiakanlah slalu ia, sementara aku biarkan saja duka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar